Batik merupakan salah satu bagian warisan karya seni budaya luhur Bangsa Indonesia, yang dapat memberikan nilai positif baik dari segi ekonomi dan budaya serta memiliki keunikan serta kekhasan yang menjadikannya mampu bertahan hingga saat sekarang di tengah derasnya globalisasi dunia. Industri kerajinan batik di Indonesia sudah terbukti selam ratusan tahun dapat memberikan penghidupan ekonomi bagi para penggiatnya.
Dalam dua tahun belakang ini perkembangan dan apresiasi kerajinan batik indonesia tidak hanya diakui oleh masyarakat di Indonesia saja, namun masyarakat dunia pun mengakui melalui badan Internasional UNESCO bahwa batik merupakan warisan budaya tak benda milik bangsa Indonesia secara utuh.
Dalam kurun waktu sepuluh tahun mengembangkan dunia batik tulisan dan batik cap dengan dasar batik Jambi, para ahli di Jambi berusaha untuk selalu dapat mewarnai perkembangan batik Jambi ke arah lebih baik dari segi desain orisinal, unik, berkualitas serta mampu memiliki daya jual yang lebih baik.
Terhimpun berbagai telaah Motif Batik Jambi, seperti dari para seniman, peneliti dan birokrat dengan latar belakang ilmu maupun pekerjaan yang berbeda dan dipengaruhi oleh sikap hidup dan pola yang dapat memunculkan ide tentang makna dan filosofi motik batik Jambi ke arah yang lebih baik.

Batik Jambi Mula – mula terdapat pada artikel yang ditulis E.M Gosling dalam mingguan Kolonial “TIMUR DAN BARAT” nomor 52 tahun 1929 dan Nomor 2 tahun 1930. Artikel itu menyebut bahwa penemu Batik di Kota Jambi adalah Tasilo Adam dan ia jugalah yang menyebar berita di bulan Januari 1928 untuk selanjutnya disebar luaskan kepada rakyat dengan perantaraan Resident Jambi Tuan Ezarman.

Menurut tulisan itu hasil kerajinan tangan Batik Jambi telah berkembang sejak Zaman dahulu yang berasal dari nenek moyang turun temurun di penduduk kampung tengah atau kampung yang berdekatan yang terletak atau kampung yang berdekatan yang terletak di Seberang sungai  Kota Jambi (Seberang Kota Jamseko). Keterangan ini diberatkan dengan bukti bahwa berkas Resident Jambi Tahun 1918 – 1925 bernama H.I.C. Petri, memiliki batik merah yang bagus sebanyak 5 helai. Terutama selendang yang indah dipandang mata dan dibuat dengan teliti, diberi warna merah diatas warna dasar hitam dan sedikit biru yang diperoleh pada tahun 1920 waktu ia bersama Ny. Bekker mengunjungi kampung tersebut.

Bukti lain menerangkan bahwa sehelai selendang sutera berasal dari Jambi tersimpan di Kolonial Institut Valkenkunde No. 556/23. Selain kerajinan tangan Batik, daerah Jambi dikenal akan Sulam Benang Emas dan Tenun ikatnya (Songket). Hal ini dibuktikan dari keterangan Ny. Resident Petri dan Tuan Tassilo Adam bahwa Tenunan Ikat Jambi sebanyak 2 helai yang dimiliki oleh Prof.Van Erde amat bagus yang tak ada tandingannya karena Rayi Limaran berbunya laksana bintang bertaburan biru muda dan putih di dalam petak bersulam benang emas didalamnya. Hasil kerajinan tangan batik, sulam benang emas dan tenun ikat (Songket) dari Jambi dahulu kala hanya dilakukan oleh beberapa orang saja demi kepentingan daerah Jambi, yang dipakai oleh penghuni rumah tangga Sultan Jambi, maka hasil kerajinan tangan tersebut lambat laun hanya tinggal namanya karena resep membuat warna merah terkubur bersama ahlinya pada tahun 1920. Hasil kerajinan tersebut pada waktu itu dipakai untuk ikat kepala, disekitar kepala, selendang sarung, ikat pinggang dan celana.

Nian S. Djoemena dalam ungkapan sehelai batik (1986) mengemukakan bahwa batik Jambi dikembangkan oleh keluarga Raja – raja Melayu Jambi dan berangsur – angsur surut setelah kerajaan runtuh. Yang jelas menurut P.W . Philipsen pada Jawa Tengah bersama keluarga dan Pengikutnya Boyongan seperti ini patut diduga juga membawa orang tahu (Pengrajin) batik, Tidak mustahil bila dari daerah ini ditemukan juga batik, tetapi terbatas dan tidak berkembang lebih jauh dari itu. Dari catatan Hendrik Van Gent, kepada perdagangan Belanda di Jambi tertanggal 18 Agustus 1964 (de Graaf, 1986) menggambarkan pengaruh Mataram sedimikian kuatnya sehingga para pangeran dan pembesar Jambi mempergunakan bahasa dan pakaian di Jawa dikalangan Keraton.

Singkat Cerita, akhirnya pada era tahun 1980 an atas prakarsa ibu IR. Sri Soedewi Maschun Sofwan (Ibu Gubernur Jambi kala itu) bersama ibu Lily Abdurahman Sayoeti memprakarsai dan menghidupkan kembali budaya Batik Jambi dengan mendatangkan ahli Batik dari Yogyakarta (Ibu IR. Sri Sudewi Samsi) dan seorang pembantu (Pakde Marno) untuk memulai kembali melatih remaja – remaja Putri dari Kota Seberang, pesertanya lebih kurang 45 orang remaja putri dan 4 orang remaja putra untuk mengikuti pelatihan yang dipusatkan dikampung Ulu Gedong (Rumah Batu). Dalam pelatihan dimaksud bukan hanya meneruskan teknis membatik alami namun mengembangkan teknis membatik ala modern dengan menggunakan zat kimia (Naptol dan Garam/Istilah pewarna batik). Hingga kini batik tulis kimia inilah yang lebih berkembang pesat dibandingkan batik tulis alami dan bermucnulan juga motif –motif baru seperti motif Batanghari, Motif Angso Duo dan motif Batanghari, Motif Angso Duo dan Motif Kombinasi serta motif – motif lainnya.

FESTIVAL BATIK JAMBI, hampir setiap daerah di Indonesia memiliki batik dengan ciri khasnya masing – masing, Jambi pun memiliki jenis batik sendiri yang khas, seperti : tanaman dan hewan. Corak – corak batik Jambi yang terkenal ; Kepak lepas, Cendawan, Batanghari, Gong, Ayam, Matohari, Duren Pecah, Kacopiring, Kupu – kupu, Kembang duren, Keladi, Angso Duo, Bayamnginseng, Kapal Sanggat, Atlas, dan lainnya. Batik Jambi seberang Sungai Batanghari. Terdapat sanggar batik yang merupakan pusat pengrajin batik jambi. Menurut pengrajin batik Jambi, meski terdapat pihak – pihak yang mencoba meniru desain dan corak mereka, para pembatik mengatakan kualitas batik mereka dapat dibandingkan kualitasnya dengan batik tiruan.

Untuk cara pembuatannya, batik Jambi sendiri terbagi menjadi 2 jenis, yaitu batik tulis (dengan lilin) dan batik cap (terdapat pola untuk dicap pada kain). Untuk bahannya, biasanya dibuat di bahan sutra dan katun. Untuk harga bervariasi, tergantung dari cara pembuatan dan bahan. Batik tulis memiliki harga lebih mahal dibanding batik cap. Batik berbahan sutera juga lebih mahal dibanding batik berbahan katun. Harganya bervariasi mulai Rp. 50.000/meter hingga jutaan rupiah per-meter tergantung selera pemakainya.

Motif dapat diartikan sebagai pola garis yang membentuk sebuah gambar, Batik berasal dari kata tik – tik, batik didefinisikan sebagai menggoreskan cairan lilin panas/cair diatas lembaran kain dengan menggunakan peralatan canting, bahan pewarna melalui proses pencelupan dan lorotan. Maka motif batik dapat diartikan sebuah pola garis ang membentuk gambar yang diterapkan sebagai batik.

Dalam perkembangannya membatik bisa dilakukan dengan cara di cap (batik cap), dicetak (batik printing), sistem ikat (batik ikat/jumputan) dan lain sebagainya. Pewarnaan batik juga telah mengalami berbagai teknik, misalnya dengan cara dikuas untuk mewarnai bagian – bagian tertentu yang dikehendaki.

Jika ditelusuri lebih jauh, timbulnya sebuah motif itu didorong oleh suatu keinginan menghias suatu benda untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, antara lain kebutuhan spiritual (Peresembahan pada para dewa, para raja/penguasa) kebutuhan u ntuk memvisualisasikan simbul – simbul religi, kebutuhan estetik, dan kebutuhan – kebutuhan lain menurut fungsi yang diinginkannya. Dari keinginan menghias suatu benda inilah, timbul berbagai macam bentuk hiasan yang kemudian disebut dengan ragam hias.

Filosofi Motif Batik Jambi Biasa berisi tentang nsehat, ajakan dan pantangan. Karateristik sosial, kepercayaan religi dan pemahaman budaya masyarakat yang berlaku secara umum setidaknya dapat menuntun kita dalam memberikan pemaknahan filosofi motif batik Jambi dengan menghubungkan dan membaca wujud visual gambar motif ragam hias batik Jambi yang ada sekarang. Tentu ini berlaku untuk motif – motif batik jambi yang baru, tidaklah sulit apalagi jika pembuatnya masih bisa ditemui dan dimintai keterangan.

Budayawan Jambi H. Junaidi T. Noor: “Motif batik Jambi memiliki karakter dan corak motif ceplok – ceplok artinya setiap motif itu berdiri sendiri – sendiri, memiliki nama sendiri, dalam penerapannya tidak berangkai tetapi dipadukan antara motif satu dengan yang lainnya (motif pokok dengan motif isian)” bila karakter ini dijaga, maka batik Jambi akan dengan mudah dikenali.

Drs. Ja’far Rassuh (Pemerhati seni); Pemaknaan simbolik dan filosofi, memberikan kesimpulan bahwa “Masyarakat Jambi lebih banyak menganut paham kesetaraaan social sehingga dalam tatanan masyarakat hampir tidak nampak adanya aturan strata sosial, masyarakat Jambi menghormati para cerdik pandai, alim ulama dan tuo tengganai, siapa pun dia dan berasal dari kalangan social mana itu tidak dipermasalahkan, maka pemaknahan motif batik Jambi hampir semuanya mengandung makna filosifi keterbukaan.

Mengenal makna Motif Batik Jambi

Motif Tampuk Manggis selain diterapkan pada seni batik juga diterapkan pada seni ukir. Dapat dimaknai sebagai “Putih Hati” atau “Ketulusan Hati Masyarakat Jambi” sebagaimana kata seloko adat “Putih Kapas dapa dilihat, Putih hati keberadaan”.

Motif Kapal Sanggat dilukiskan dengan objek kapal laut dan berbagai jenis binatang laut diantaranya udang, kepiting, ubur – ubur, ikan, kerang, kepah dan ikan pari. Kapal sanggat secara visual dan bila dikaji dari sisi semiotika banyak hal yang dapat diurai dari motif ini. Motif ini lebih kepada sebuah peringatan kepada kelompok – kelompok sosial masyarakat, jangan sampai terjadi hal – hal yang merugi, karenanya ada pesan “berlayarlah sampai ke pulau, berjalanlah sampai ketujuan”.

Motif Durian Pecah: keistimewaaan buah durian kiranya telah menjadi sumber inspirasi bagi terciptanya motif durian pecah. Filosofi dari duren pecah ini bisa juga diartikan sebagai pemimpin yang mempunyai sifat amanah, tegas dalam ucapan, kuat dalam pendirian dan membawa berkah dan manfaat bagi orang lain dan alam sekitar.

Motif Merak Ngeram; dilukiskan dengan seekor burung merak yang sedang mengerami telornya. Burung merak adalah burung yang mempunyai bulu yang indah dan termasuk binatang langka yang dilindungi. Disamping indah, bulunya juga menampilkan kesan anggun yang menonjol, adalah penggambaran “kasih sayang dan tanggung jawab seorang ibu” yang mengandung selama sembilan bulan dan dua tahun menyusui, membelai serta mengasuh anak hingga dewasa, semuanya itu ibu lakukan tanpa mengharapkan belas kasih dan imbalan jasa, semuanya dilaksanakan dengan hati yang tulus dan muko yang jernih.

Motif Angso Duo  tergolong motif fauna yang melegenda dan sarat dengan nilai – nilai sejarah, terutama sejarah Kota Jambi “Tanah Pilih Pusako Betuah”. Motif ini memiliki kandungan pesan yang cukup mendalam yaitu nilai kerukunan dan kesetaraaan jender, kegigihan dan kesabaran dalam berusaha, serta nilai keselarasan antara sesama manusia sebagai mahluk yang dimuliakan.

Motif Kuao Berhias  merupakan salah satu motif batik lama yang ada dijambi. Motif ini terinspirasi oleh pengrajin batik dari binatang unggas yang bernama Kuao. Motif ini dimaknai agar kita bercermin terhadap kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri sendiri (Intropeksi) karenanya kita bisa memperbaiki yang ada.

Motif Riang – riang berasal dari nama hewan serangga Reriang tahunan (Tibicen linnei) sumber google, Pesan yang terkandung dalam motif riang – riang “sebagai manusia kita harus dapat memberikan manfaat bagi orang lain”. Karena sebaik – baiknya manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi orang lain dan lingkungannya. Seperti yang dilakukan oleh riang – riang, dengan bentuk badan yang kecil dan kemampuan yang juga kecil, tetapi masih mampu memberikan sinar dalam kegelapan dan dapat menimbulkan keindahan dalam kegelapan. Ketika dia berbunyi orang yang mendengar merasa bising dan ringam, tetapi bila tidak berbunyi terasa sunyi. Ternyata bunyi riang – riang juga dibutuhkan bak kato seloko “dekat diringam jauh di rindu”.

Motif Batanghari, disimbolkan “bahwa umur, kita, perjalanan kita, kegagalan dan keberhasilan hidup seseorang masing – masing berbeda tetapi semuanya tetap pada pemegang poros kehidupan yaitu ditangan Tuhan Yang Maha Kuasa”.

Motif Kaco Piring menyerupai bungo kaca piring dan piring kaca yang banyak beredar di Jambi pada masa pemerintahan Belanda yang bunga di bagian dasarnya menyerupai bungo kaco piring. Berbagai motif khas Jambi ikut mempengaruhi kehidupan masyarakat dengan motif khas yang di inspirasi dari alam sekitarnya, antara lain motif Daun keladi/talas. Filosofi yang terkandung dalam motif keladi/talas.

Motif Daun Keladi dapat disimpulkan sebagai “dapat melakukan kerja sama, kuat dan setia kawan” sangat dengan filosofi “Teguh dengan janji dalam tiga sepilin/tigo tungku sejarangan kok bulat dapat digulingkan, kok pipih dapat dilayangkan”. Makna lain mengandung nasehat “Jangan seperti air diatas daun talas, artinya tidak dapat dipegang janjinya. Tetapi kandungan pesannya adalah “Jadilah orang yang teguh menepati janji (dapat dipercaya)”

Motif Relung kangkung motif relung kangkung ini bisa diterapkan pada batik dan ukiran. Jika motif ini diterapkan pada batik maka dapat diartikan sebuah pola garis yang membentuk gambar menyerupai tumbuhan kangkung yang diterapkan pada batik. Ada Nama motif Relung Kangkung dan ada Bungo Kangkung, dipilihnya nama tersebut karena bagian yang terindah dari tumbuhan kangkung yang dapat menginspirasi pencipta motif ini. Memiliki makna filosofi “Perjuangan hidup yang pantang menyerah untuk mencapai cita – cita dan sikap yang arif untuk menyelesaikan setiap persoalan yang datang agar kehidupan dapat berjalan sebagaimana mestinya”.

Motif batik bungo tanjung memiliki makna filosofi “seorang pemimpin yang arif dan bijaksana, dapat dipercaya keindahan tutur katanya serta di tauladani sikap dan perillakunya”.

Motif Bungo Teratai  memiliki makna filosofi: Kesucian, Keindahan dan ketegaran hidup; 1) Seorang gadis umpamakan bunga, harus tetap mampu menjaga kesuciannya walau hidup berada dalam lingkungan yang kuran baik, harus pandai menyaring dan menjaga diri tetap tegar dan segar menampakan keindahan jangan layu sebelum berkembang. 2) Alam terkembang menjadi guru bagi siapapun orang yang mampu mengambil makna setiap peristiwa yang terjadi disekitar lingkungannya.

Motif Bungo Melati memiliki makna filosofi selain lambang kesucian cinta adalah ;

  • Sifat konaah dan syukur atas apa yang ada, tidak ada iri dengan yang lain, sesungguhnhya Allah menciptakan semua bentuk dan keadaaan mahluknya sesuai perannya masing – masing.
  • Aku adalah saya yang tak akan seperti dan menjadi kamu. Akupun tak ingin kamu menjadi aku namun aku dan kamu adalah kita. Artinya seseorang tidak bisa memaksakan kehendaknya kepada orang lain begitu juga sebaliknya, sebaiknya saling berbagi dan bekerja sama tapi tidak perlu menonjolkan diri siapa aku.

Motif  Kepak Lepas memiliki makna filosofi berisi tentang nasehat: 1) Hendaknya manusia dapat mensyukuri dan menjaga apa yang sudah dikaruniakan Allah kepadanya. 2) Jangan menyia – nyiakan sesuatu yang sudah didapat, dan menyesal kemudian setelah dia tiada (Itu gawe sio – sio). 3) Kehidupan tidak akan bisa berjalan sebagaimana mestinya, bila komponen yang paling penting sudah tidak berfungsi atau telah lepas (Bagaikan burung lepas sayapnya) apo nan biso digawekan.