MUSEUM PERJUANGAN RAKYAT JAMBI merupakan tempat terhimpunnya berbagai kelengkapan para Pejuang Rakyat Jambi, catatan peristiwa – peristiwa perlawan kepada penjajah. Juga tinggalan masa pendudukan Jepang secara “insitu” masih dapat dilihat di Museum Perjuangan Rakyat Jambi. Tersimpan dan tersaji berbagai tinggalan persenjataan baik jenis senjata api, keris, pedang, bedil, asesoris perang dan perangkat militer lainnya. Berbagai tampilan peristiwa juga tersaji berbentuk diorama, foto lama, reproduksi berbagai naskah sebagai penanda “Kejuangan Rakyat Jambi, akan terus Berkobar Guna Mengisi Kemerdekaan yang Hakiki”.

Dahulu likasi ii bagian dari lingkungan istana Tanah pilih yang kemudian dikuasai oleh Belanda sebagai markas tentara. Setelah kembali ke pangkuan rakyat Jambi, dibangun lapangan tempat upacara dan latihan militer, kemudian dikenal dengan “lapangan benteng”. Lapangan ini juga pada masa mempertahankan kemerdekaan dijadikan tempat kegiatan yang bersifat seremonial, seperti rapat akbar, pertandingan olah raga, dana kegiatan kepemudaan masa itu. Lapangan Benteng tersebut beralih fungsi, berdiri bangunan Museum Perjuangan Rakyat Jambi yang mengabadikan berbagai peristiwa kejuangan dan perjuangan.

Meliuk lembut bagaikan liukan ular sanca raksasa memeluk pinggang Kota Jambi yang damai. Begitulah sungai Batanghari dilihat dari udara. Batanghari adalah sungai terpanjang di Sumatera, hingga mencapai 800 km. Dari muara ke kawasan ulu Sumatera Barat kemudian melingkari Kota Jambi berakhir di laut lepas. Situs – situs kepurbakalaan tersebar sepanjang DAS Batanghari, mulai dari Kuala Jambi (Sabak Tanjab Timur) hingga keulu kekawasan Pagaruyung Sumatera Barat merupakan bukti kejayaan dan perjalanan Kerajaan Koying, the hu pho, moloyou, Kuntala, kemasa Darmasraya dan Swarnabhumi.

Bangunan Rumah Panggung Tradisional Masyarakat Jambi, juga menanti para pengunjung di Taman Mayang Mangurai bersebelahan dengan kantor Gubernur Jambi berhadapan dengna areal gedung RRI Jambi, di Telanaipura. Kita akan mendapat pengetahuan banyak tentang fungis dan tata nilai adat budaya Jambi, jika memperhatikan secara seksama di dalam ruang – ruang rumah adat ini. Tinggalan – tinggalan kepurbakalaan “Bumi Seribu Candi Jambi” tersaji dalam berbagai tampilan di gedung Museum Siginjai di Kota Jambi. Sosok arca bairawa sebagai panduan fisik dihalaman museum, seakan menyapa kedatangannya para pengunjung. Sepasang arca Dwarapala (arca penjaga pintu) duplikasi Dwarapala yang ditemukan di Candi Gedong Dua, SItus Percandian Muara Jambi. Pengunjung Museum Siginjai akan mendapatkan wawasan kebudayaan Jambi secara menyeluruh, jika berada di ruang – ruang koleksi.