R.C. Van Den Bor : Jejak Bangsawan Belanda di Jambi
Admin
11 Agustus 2025
DISPARBUD KOTA JAMBI - R.C. van den Bor merupakan seorang yang bergelar bangsawan Orange-Nassau saat masa kolonial di Jambi. Gelar itu berarti bahwa Ia memiliki gelar yang berpengaruh saat itu dalam bidang politik dan pemerintahan Belanda di Jambi. Ia lahir pada tahun 1862 dan wafat pada tahun 1910. Ternyata berdasarkan tulisan di nisannya bahwa pangkat terakhir semasa hidupnya adalah asisten Residen Jambi Hulu saat itu.
Pada tahun 1906 R.C. van den Bor merupakan kontrolir di Sarulangun. Diera kepemimpinan sebagai kontrolir, Ia pernah terluka berat di Sarolangun. Hal ini disebabkan saat Mei 1906, pasukan Alam Perun dan Pangeran Haji Umar mencoba membunuh R.C. van den Bor, kontrolir Sarolangun. Ternyata percobaan itu hanya membuat R.C. van den Bor terluka parah.
Pangeran Haji Umar dan Pangeran Seman merupakan bangsawan Melayu Jambi saat itu. Boleh dikatakan bahwa kasus tersebut merupakan pertempuran antara seorang bangsawan Oranje-Nassau seperti kontrolir Sarolangun R.C. van den Bor dengan bangsawan Melayu Jambi seperti Pangeran Haji Umar, Pangeran Seman, dan sebagainya.
Kisah itu dimulai saat Pangeran Haji Umar dan Pangeran Seman kembali ke Merangin, maka suasana atau pemberontakan kembali memanas antara bangsawan pemerintahan Belanda dan bangsawan kesultanan melayu Jambi saat itu . Jadi, Haji Umar dan Pangeran Seman berhasil membunuh Kontrolir R.H. Kroesen, tetapi tidak kepada kontrolir Sarolangun R.C. van den Bor.
Kemudian pada 07 September 1907 terjadi operasi militer Belanda secara terus-menerus sehingga pimpinan perlawanan Jambi paling penting saat itu seperti Raden Mat Taher, wafat. Itu pun setelah abangnya, Raden Achmad, meninggal. Sekarang mereka dikuburkan di Kota Jambi pada Pemakaman Bangsawan (Makam Raja-Raja) Jambi di Tepi Danau Sipin. Perlu dicatat bahwa tahun 1907 ini, “priyayi Belanda” R.C. van den Bor masih siap bertempur, sedangkan Pangeran Singo, Pangeran Haji Umar, Pangeran Seman, dan Raden Mat Taher, semuanya telah gugur.
Sementara itu. pada 1910 saat menjabat sebagai Assisten Residen Jambi Bovenlanden, R.C. van den Bor meninggal. Akan tetapi tentang kematiannya belum diketahui secara pasti apakah di bunuh atau terkena serangan penyakit. Dikarenakan pada nisan Kerkhof van Jambi hanya tertulis tahun saja yakni 1910.
Pemikiran R.C Van Den Bor Terhadap Kehidupan Masyarakat Masa Keridenan Jambi
Setelah wafatny R.C Van Den Bor ternyata Ia meninggalkan catatan tulisan yang merupakan sebuah karya tentang bagaimana kondisi Jambi saat itu baik dari segi sosial, ekonomi, politik dan pemerintahan masa kolonial Belanda dan Keresiden Jambi yang menjadi bahan referensi penting dalam bidang ilmu pengetahuan khususnya di bidang sejarah.
Para peneliti sejarah baik dari luar maupun dalam Jambi seperti Jang Aisjah Muttalib, Elsbeth Locher-Scholten, Barbara Watson Andaya, Lindayanti-Junaidi T. Noor, dan seterusnya telah memakai tulisan Bor sebagai refensi kajian sejarah khususnya kondisi Jambi masa kolonial dan residen saat itu.
Misalnya saja karya R.C. van den Bor “Aanteekeningen Betreffende Bestuurvorm en Rechtspraak in de Boven-Tembesi Tijdens het Sultanaat van Djamb” yang berarti Catatan tentang Tatanegara dan Penyelesaian Hukum di Tembesi Hulu Sewaktu Menjadi Daerah Kesultanan Jambi, di dalam TBB Tijdschrift voor het Binnenlandsch Bestuur, No.XXX, 1906.
Selanjutnya tentang “Aanteekeningen Betreffende het Grondbezit in Boven-Tembesi” yang berarti Catatan tentang Kepemilikan Tanah di Tembesi Hulu, dalam TBB Tijdschrift voor het Binnenlandsch Bestuur, No.XXX, 1906. Kemudian “Een an Ander Betreffende het Ressort van den Controleur te Sarolangoen, Onderafdeeling Boven-Tembesi, der Afdeeling Djambi” yang berarti Satu dan Lain Hal Mengenai Daerah Kekuasaan Kontrolir di Sarolangun, Onderafdeeling Tembesi Hulu, dan Afdeeling Jambi, dalam Tijdschrift voor het Binnenlandsch Bestuur (TBB), 30, 1906.
Selain itu karya R.C Van Den Bor tentang “Vertaling: Over het Rijkssieraad van Djambi, genaamd Si Gendje” yang berarti Terjemahan Perhiasan Istana Jambi, Bernama Si Gendje, dalam TBG/ KITLV Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkendekunde, XLVIII, 1906, dan “Legende van de Kris Si Gindje”, dalam TBG Tijdschrift voor het Bataviaasche Genootschap, XLVIII, 1906.
Untuk judul “Legende van de Kris Si Gindje”, Barbara Watson Andaya menulis atau memakai: C. den Hammer,“Legende van de Kris Si Gendje, Zooals die den Assisten-Resident van Djambi door eenige oude Anaq-Radja werd medegedeeld, met, Als aanhangesel, de legende omtrent Si Gendje Maboek, zooals die aan den controleur R.C. van den Bor in het Soeroelangoensche is verhaald”, dalam TBG, 48, Tahun 1906. Di dalam tulisan ini, C. den Hammer menyebut nama kontrolir R.C. van den Bor.
Karya R.C Van Den Bor ini juga dikutip oleh penulis-penulis sejarah di Jambi, seperti tentang pengaruh asing dalam adat istiadat penduduk Jambi. Ternyata pandangan R.C. van den Bor cukup baik. Misalnya, kalau di onderafdeeling Muaro Bungo, ada desa Candi di tepi Sungai Tebo, hulu dari Tanah Periuk dan di dusun Tanah Periok sendiri ditemukan sebuah arca Budha kecil; maka di onderafdeeling Sarolangun, tidak diketahui adanya pemukiman Hindu ataupun peninggalan Budha. Akan tetapi, menurut kontrolir Sarolangun R.C. van den Bor, perkataan “biyaro” merupakan petunjuk adanya pengaruh Hindu, karena kata itu campuran dari bahasa Sansekerta “whihara”. Pendapat Bor tercatat dalam Tijdschrift voor het Binnenlansch Bestuur tahun 1905. J. Tideman,1938:46-47.